Masa Kejayaan Keris Jawa Sebagai Pusaka Nusantara Paling Sakti

Masa Kejayaan Keris Jawa Sebagai Pusaka Nusantara Paling Sakti – Dalam cerita-cerita kuno, biasanya banyak diceritakan masalah keris. Malahan dalam dongeng-dongeng sekalipun, banyak juga yang mengisahkan keajaiban-keajaiban keris tersebut. Hanya saja kalau diteliti, keris keris Jawa itu kebanyakan masih terbatas menjadi hak milik orang-orang yang berkedudukan tinggi. Jangankan rakyat jelata Oaman kuna), selagi para empu yang membabar atau membuat keris-keris tersebut, kebanyakan setelah bisa menyelesaikan karyanya, pusaka itu tidak menjadi miliknya, tetapi kebanyakan diserahkan atau diminta oleh para raja, atau para prayagung.

Karena banyak sebab, mungkin karena tidak bisa membuat sendiri, tidak mampu memberi imbalan, dan mungkin karena takut bila ketahuan rajanya dan lain sebagainya, maka kebanyakan rakyat jelata pada jaman dulu, jarang yang mempunyai pusaka keris Jawa dan pusaka-pusaka bentuk lain. Untuk mengejar keinginan yang sukar didapat itu, maka ada kalanya orang-orang dulu mengada-ada membuat pusaka sendiri, yang bentuk maupun bahannya lain-lain, ada yang dari besi, ada yang dari kayu atau batu dan lain-lain.

Sampai dengan angan-angan pengadaan mengenai daya guna kesaktiannya. Pusaka yang terbuat dari kayu berbentuk macan itu, mempunyai kesaktian bisa mengusir hama tikus. Pusaka yang terbuat dari batu berbentuk ayam, jika dimiliki oleh seseorang, si pemilik tersebut bisa menjadi kaya dan lain sebagainya. Maka dengan sadar atau tidak, mereka yang berbuat seperti tersebut di atas, sudah bisa dikatakan bahwa mereka menyelewengkan arti guna diadakannya pusaka-pusaka keris Jawa itu.

Mengapa Para Mpu Jaman Dahulu Menciptakan Sebilah Keris Jawa yang khas?

Sebab-sebab empu pada jaman dahulu membuat keris adalah sebagai berikut :

  1. Para empu membuat keris, adalah untuk barang peninggalan kepada anak cucu keturunan. Entah keris itu tayuhan atau tidak.
  2. Para empu membuat keris, untuk perisai (tameng: Jawa) diri, bila terpaksa melawan musuh ….. (keadaan masa dulu).
  3. Para empu membuat keris, agar bisa memperlihatkan dan disaksikan oleh seisi dunia, bahwa orang-orang Timur atau orang-orang di jagad Nusantara di kala itu sudah bisa menemukan cara-cara menyatukan benda-benda da_ri beberapa jenis yang semula terpisah. Semuanya itu sebagai sindiran, jangankan manusia yang semua mempunyai akal dan pikiran, sedang benda matipun bisa disatukan, mengapa manusia tidak ….. sangat disayangkan.

KERIS JAWA ZAMAN SULTAN AGUNG ANYAKRAKUSUMA

Sampen Dalem lngkang Sunuhan Kangjeng Sultan Agung, Prabu Anyakrakusuma, Senapati Ing Ngalaga, Abdurrahman Sayidin Panata Dinan. Menduduki takhta menjadi raja negeri Mataram selama 32 tahun sejak tahun surya 1538 sampai dengan 1570, atau tahun Masehi 1613 sampai dengan 1645. Selain raja yang bijaksana berpendirian teguh, beliau terkenal juga seorang raja yang halus tegur sapanya terhadap rakyat, tidak pandang bulu adil paramarta. Mengganjar yang berjasa, sebaliknya menghukum yang bersalah. Beliau mempunyai kegemaran bercanda pun juga berburu margasatwa.

 Maka selayaknya bila beliau juga sedang mengumpulkan senjata-senjata apapun, sebagai peralatan berburu, tetapi juga untuk menjaga diri. Yang perlu diterangkan di sini ialah, selain beliau gemar akan semua jenis senjata apa saja, namun baginda tidak mengabaikan dan tidak lupa kepada semua jenis pusaka-pusaka wesi aji apapun yang berupa keris tombak dan lain sebagainya. Terhadap apa yang berupa wesi aji, beliau selalu memperdalam meneliti sehingga menjadi tokoh yang ahli mengenai wesi aji.

Pada suatu ketika rakyat negeri Mataram menjadi tercengang bercampur gembira setelah mendengar, bahwa baginda Kanjeng Sultan berkenan mengeluarkan pengumuman, yaitu mulai saat rakyat diperkenankan mempunyai pusaka-pusaka wesi aji seperti keris, tombak, pedang luwuk dan lain sebagainya, dan jangan mempunyai rasa takut, bila sewaktu-waktu pusaka tersebut akan diminta oleh raja dan keluarga keraton. Semua orang berhak mempunyai rasa kepercayaan yang mantap terhadap apa yang dipunyai, dan diminta mempanyai rasa kepercayaan terhadap pimpinannya, bahwa beliau dan kerabat keraton selalu akan melindungi semua hak kepemilikan rakyatnya. Dan tidaklah aneh bahwa rakyat Mataram semakin tebal rasa setia dan cintanya terhadap Kanjeng Sultan Agung. Mulai saat itu Mataram berwajah baru, rakyat secara gotongroyong dan cara apa saja mulai berbenah diri membangun. Mulai dari desa desa sampai kampung hingga dalam kota, keadaan Mataram bertambah cerah.

Dan di sana sini bila ada pertemuan maupun peralatan apalagi dalam hari-hari pasowanan, rakyat tidak takut-takut lagi memakai pakaian adatnya yang tidak lupa memakai keris sebagai pelengkap. Mulai keris yang tergolong ageman maupun yang disebut keris pusaka tayuhan. Pada suatu hari datanglah seorang empu dari Demak yang bernama Kyai Supa, ingjn mengabdi di Mataram. Oleh Kanjeng Sultan Agung, Empu Supa diterima.

Baca Juga :   Keris Pusaka Tanah Jawa Yg Paling Ampuh, Jaman Kerajaan Hingga Walisongo

Dan setelah diketahui bahwa Empu Supa memang betul-betul mahir membuat dan membabar wesi aji, maka oleh Kanjeng Sultan dia diberi kedudukan menjadi lurah empu di Mataram, yang pada waktu itu sudah banyak juga empu yang dikumpulkan oleh baginda. Mulai saat itu Empu Supa mendapat ganjaran nama yaitu Empu Warihanom. Kanjeng Sultan memerintahkan agar Kyai Warihanom dan rekan-rekannya membuat sebanyak mungkin pusaka-pusaka keris.

Di situlah selain banyak tercipta keris-keris yang boleh dikata baik, tetapi yang sangat mengesankan, ada pesan dari Kanjeng Sultan, agar Empu Warihanom semuanya membuat atau membabar pusaka yang berciri khusus, yaitu awak-awakannya supaya dilapisi emas. Dengan adanya pesan atau perintah sang prabu, maka selain bermunculan keris yang berlapis emas, juga terciptalah dari tangan empu Supa (Warihanom) dan sementara juga dari rekan-rekannya.

Pusaka-pusaka keris Jawa yang terkenal, seperti halnya Kyai Nagasasra, Kyai Nagasiluman, Kyai Nagakikik, Kyai Nagawelang, dan mungkin masih ada lagi yang belum duraikan di sini. Pada suatu ketika Kanjeng Sultan berkenan memberi ganjaran kerabat putra santana maupun kawula dalem besar kecil yang ternyata sudah berjasa kepada bangsa dan negeri Mataram.

Dalam pemerataan pemberian ganjaran pusaka dari raja kepada santana dan rakyatnya, selain mengingat besar kecilnya jasa pun juga disesuaikan dengan kedudukannya, yang diganjar itu sebagai perajurit atau selaku pamong praja. Yang sudah tercatat bisa disebut seperti di bawah ini. Para lelurah perajurit sampai perajurit biasa menerima ganjaran ada yang berupa tombak atau keris, yang diserasah emas bergambar Sada Sakler juga bergambar Sapitlandak dan Trisula. Para Perwira prajurit dan Panewu Mantri mendapat ganjaran pusakapusaka yang diserasah emas bergambar kepala gajah dan singa.

Sebagai pimpinan pasukan dan para Wadana Kaliwon mendapat ganjaran pusaka yang diserasah emas berupa lunglungan dan ronronan. Para putra kerabat keraton atau patih dalem, mendapat ganjaran pusaka yang diserasah emas bergambar Bunga Anggrek. Dengan kenyataan ini, teranglah bahwa Kanjeng Sultan Agung adalah tokoh yang betul-betul menjadi sarana berkembangnya seni pembuatan keris. Dan tokoh yang melestarikan jaya dan kewibawaan benda-benda pusaka kuna ciptaan nenek-moyang kita.

KERIS JAWA JAMAN KEEMASAN KERIS DI JAMAN SULTAN AGUNG

Selain mendapat restu juga selalu dianjurkan oleh Kanjeng Sultan Agung, agar Empu Warihanom (Supa) dan rekan-rekannya setia dan tekun membuat atau membabar keris yang berupa wesi aji, agar kelak bisa menjadi peninggalan karya agung bagi anak cucu. Maka bisa diterangkan di sini bahwa jaman Sultan Agungan memang menjadi surga bagi para empu. Mereka bebas mencipta menurut selera masing-masing. Yang oleh Kanjeng Sultan semuanya itu dianggap menjadi tambahan kekayaan hasil karya bangsa Mataram khususnya dan warga bumi Nusantara pada umumnya.

Di situlah Empu Warihanom dan rekan-rekannya semakin mantap dan tekun selalu membabar wesi aji. Apalagi jaman Mataram Sultan Agung mengenai bahan besi semakin gampang diperoleh, hanya mengenai pamor yang terasa semakin sulit didapat.

Keris Jawa Sebagai Pusaka Ageman Dan Tayuhan Jaman Kerajaan

Selain wesi aji atau keris keris Jawa pusaka yang sudah ada dan tertulis dalam catatan maka pada waktu itu Empu Warihanom dan rekan-rekannya menambah kekayaan pusaka ageman dan tayuhan. Pusaka-pusaka Keris Jawa tersebut adalah sebagai berikut. :

  1. Kyai Nagasasra Berluk tigabelas berserasah emas mulai kepala sampai ekor. Lambe gajah yang berbentuk kepala naga dari emas, dalam mulutnya diberi sebutir intan (bukan berlian).
  2. Kyai Nagasiluman Kyai Nagasiluman juga berluk tigabelas. Lambe gajah berbentuk kepala naga, tetapi bukan menggunakan mahkota seperti Kyai Nagasasra, hanya menggunakan tropong. Serasah emas di bahan hanya tigaperempat panjar:ignya, selanjutnya terputus, jadi perwujudan ekor tidak ada.
  3. Kyai Nagakikik Kyai Nagakikik mempunyai luk tigabelas dengan serasah emas mulai kepala naga yang tidak memakai perhiasan apa-apa, dan mulut naga sedikit runcing dan tidak begitu menganga.
  4. Kyai Nagawelang Kyai Nagawelang juga mempunyai luk tigabelas dengan kepala nagayang dihiasi dengan jamang ringih. Pengetrapan emas sedikit tebal dan penggambaran sisik selang-seling antara emas dan bukan. Bila diperhatikan seperti ular welang.

Disini ada keterangan yang perlu tercatat di sini, bahwa padajaman kerajaan Demak, Empu Kyai Supa juga sudah pernah membabar pusaka keris yang dinamakan Kyai Nagaraja. Empu Warihanom beserta rekan-rekan dan pembantunya dalam jaman itu semakin tenar dan diakui oleh umum, bahwa beliau-beliau nyata-nyata orang yang sudah mendarah daging menyatu jiwa dengan pusaka-pusaka yang bersifat wesi aji. Karena ketekunan dan telitinya, maka di jaman itu para empu bisa mencipta kesatuan bentuk atau yang dinamakan manunggalnya pasikutan dan dapur dari keris buatan manapun yang disatukan rasa karya dengan bentuk dan dapur buatan Mataram.

Baca Juga :   Makna Keris, Daya Magis Dan Nilai Metafisika. Mengapa Keris Harus Anda Miliki?

Dapur Pusaka Keris Jawa Penyempurna Keris Terdahulu

Selain keris-keris Jawa pusaka Mataram yang sudah diterangkan di atas, maka para empu di jaman itu menambah kekayaan dapur pusaka beberapa bilah, yang semua itu walau kebanyakan mengambil cakrik dan pasikutan dari pusaka-pusaka yang terdahulu, namun setelah jadi, buah karyanya tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi yang memandangnya.

Sebab buah karyanya itu menandakan persatuan dan kesatuan dari buah cipta empu-empu yang terdahulu dan para empu pada jamannya. Adapun tambahan kekayaan karya mulia itu diberi nama sebagai berikut :

  1. Dapur Kuwung dan Dapur Tapian : Nama dapur keduanya diambil dari nama-nama yang mencipta dan membabarnya, yaitu Empu Kuwung dan Empu Tapan. Kedua dapur tersebut mengambil corak gambar dari yasan atau buatan jaman Pajajaran. Apapun yang terbabar mempunyai ciri buatan Pajajaran yang dicampur dengan bentuk ciri Mataram.
  2. Dapur Sukuh : adalah babaran pusaka yang dimiripkan dengan babaran Majapahit. Besi maupun cara membuat mengenai rasa perabaannya, pengetrapan pamor dan lain sebagainya sengaja memasukkan cakrik dan dapur yasan Majapahit yang dipersatukan dengan ciri-ciri Mataram.
  3. Dapur Tuban Talisongo : merupakan ciptaan yang sangat indah di masa itu. Semua garapan mengenai bahan dan perwujudannya diambil ciri-ciri jaman Tuban Majapahit. Keris terlihat gagah tetapi ramping cakrik Mataram. Pethit atau ujung pusaka runcing merupakan gambar Gabah. Jika dipandang lamalama terlihat kebagusannya.
  4. Dapur Pakajoran dan Samarang Ternbayatan : Kedua dapur keris ini oleh para empu yang menggarap diakui mempunyai daya tarik ketenteraman rasa. Kedua dapur keris ini diambil dari ciri-ciri keris yasan negeri Demak. Tetapi juga memasukkan dapur Majapahit. Pusaka ini jika dibayangkan dalam pandangan kelihatan semakin kelam berwibawa.
  5. Dapur Tundung Madlun dan Dapur Umyang : Kedua dapur ini mengambil dan memasukkan ciri-ciri yasan negeri Pajang. Hanya jangan sampai membaurkan perasaan bagi yang mengamati, maka pengetrapan pamor dan pasikutannya tetap asli mengambil ciri Mataram. Kedua dapur keris tersebut waktu pembuatannya berbarengan, maka jika diteliti keduanya mempunyai sifat dan ciri yang hampir sama.
  6. Dapur Setrabanyu dan Setrageni : Dalam pembuatan dapur setrabanyu dan setrageni sengaja tidak memasukkan pasikutan dan cakrik maupun cengkok pusaka-pusaka yang sudah ada. Keduanya sengaja memakai pokok ciri Mataram.
  7. Dapur Supakoripan : Keris yasan Mataram yang satu ini, selain tidak memasukkan ciri dan tangguh pasikutan dari pusaka yang sudah ada. Juga ditambah dengan kemajuan mengetrapk_an pamor yang ditangani sendiri oleh para empu tanpa menggunakan bantuan pangluluh api. Jadi pamor tersebut hanya diterapkan dalam suasana dingin.

Mungkin masih banyak karya para empu di jaman Mataram Sultan Agung ini yang belum sempat dimasukkan dalam catatan, namun dengan beberapa gambaran yang sudah tercantum di atas, kita sudah bisa membayangkan, bahwa di jaman itu keris-keris semakin banyak tercipta dan dimiliki oleh segenap rakyat Mataram. Konon dalam penelitian bersama, keris-keris Jawa buatan setelah jaman Mataram ini, bisa disebut pusaka nom-noman.

Dalam pembuatan keris Jawa yang dinamakan nom-noman itu terlihat lebih mantap dibanding dengan keris-keris buatan jaman silam, namun demikian hingga sampai sekarang orang masih lebih menyukai keris-keris yang lebih tua usianya. Karena memang sudah lazim dalam kamus perkerisan atau yang disebut kamus kacurigan, bahwa mempunyai keris perlu juga mempunyai pedoman pengetahuan tentang :

  1. Sepuh, berarti pembuatan yang lebih kuna
  2. Tangguh, adalah betul-betul diketahui bahwa keris ini sangat cermat pembuatannya, tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan.
  3. Wutuh, adalah bahwa pusaka atau keris tersebut belum cacat. Yang berarti pugut, gempil, kropok, kehilangan gambar dan lain-lain.

Mengenai keutuhan dari keris Jawa sangat perlu diperhatikan, sebab walau keris tersebut dalam tayuhan apalagi dalam tangguhan ternyata masih tergolong yasan. kuna, namun kalau dalam tata lahir dalam keadaan cacat, pastilah keris tersebut akan sedikit banyak kehilangan harganya.

Jika Anda ingin tahu lebih lanjut tentang KERIS BERKHODAM, Keris Pusaka yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Baik untuk kewibawaan, untuk kesejahteraan hidup. Untuk pengasihan, untuk kerezekian, jabatan dan kekayaan. Silahkan hubungi admin kami :

Call Center 1

Telepon & SMS : 082223338771

Call Center 2

Telepon & SMS : 085712999772

Ciri Khas Keris Pusaka Tanah Jawa, Zaman Kerajaan Hindu Hingga Islam<< >>Cara Merawat Keris, Memandikan, Memelihara dan Menyimpan Keris Pusaka

About the author : apnusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published.